BANDUNG - Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Jabar diharapkan konsisten dengan program revitalisasi dan pewarisan untuk melestarikan kesenian tradisional. Program ini diperlukan sebagai proses regenerasi kesenian.
Seniman Bandung Mas Nanu Muda menjelaskan, program tersebut penting untuk menghidupkan para seniman tradisional yang banyak tersebar di Jawa Barat.
"Revitalisasi dan pewarisan sangat membantu seni tradisional untuk melestarikan nilai-nilai filosofi seni. Tetapi saya sarankan program ini harus konsisten dan dijadikan kebutuhan," ungkap Mas Nanu, kepada okezone, Selasa (28/2/2012).
Kata staf pengajar seni tari di STSI Bandung ini, disparbud harus menjalankan program dengan penuh tanggung jawab moral. Program pewarisan sendiri butuh waktu lama, minimal 30 kali latihan.
Setelah itu, harus ada proses monitoring bagi program kesenian yang sudah direvitalisasi. Pemerintah juga harus menyiapkan bagaimana kedepannya kesenian tersebut. Pemerintah juga jangan terlalu hitungan saat mengeluarkan anggaran untuk pelestarian seni.
"Revitalisasi bukan soal mahalnya, tapi keseniannya itu, potensinya harus dihargai. Pemerintah kadang hitung-hitungan. Padahal pewarisan perlu waktu lama malah tahunan. Karena ini demi melestarikan kesenian buhun," ungkapnya.
Selain itu, tentu saja tanggung jawab tidak hanya ada di pemerintah. Pewarisan perlu dukungan dari masyarakat dan seniman. Lanjut Nanu, sehingga program pewarisan saja belum cukup.
"Ini tanggung jawab masyarakat dan seniman juga. Lewat program masyarakat harus mau belajar. Selanjutnya ada inovasi supaya penonton tertarik sehingga kesenian terus hidup," ujarnya.
Di sisi lain, Disparbud harus melakukan pemetaan kesenian yang punah dan nyaris punah. Dalam hal ini, kendalanya adalah tidak adanya pewaris, terbatasnya peralatan kesenian, hingga diperparah dengan terlambatnya pemetaan.
"Tetapi jika pemerintah konsisten, tentu sangat membantu kesenian," pungkasnya.
Jum'at, 24 Mei 2013 12:09 WIB
Jum'at, 24 Mei 2013 10:44 WIB
Kamis, 23 Mei 2013 12:42 WIB