BANDUNG - Kampanye pemakaian kondom menuai pro-kontra, termasuk di Jawa Barat. Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat menjelaskan maksud kampanye yang digagas Menteri Kesehatan (Menkes) Nafsiah Mboi itu.
Kepala Dinkes Jabar, Alma Lucyati, meminta masyarakat menangkap kampanye penggunaan kondom tidak setengah-setengah.
“Kami harap masyarakat membaca kampanye kondom ini secara utuh, tidak setengah-setengah,” ucap Alma.
Instruksi dari Menkes, lanjut dia, sebenarnya ada beberapa langkah. Tujuan utamanya, untuk mencegah penularan HIV/AIDS dan penyakit menular seksual.
“Pertama, A atau abstain, artinya jangan melakukan hubungan seks. Apalagi, masih di bawah umur,” ungkapnya.
Kedua, B, yakni be faithful atau setia pada pasanga. Artinya, jangan berganti pasangan. Nah ketiga, ini jika terpaksa, pakailah kondom atau C (condom). “C ini untuk orang berisiko tinggi,” tegasnya.
Alma menuturkan, Nafsiah sebelum menjadi menkes bekerja di organisasi yang menangani HIV/AIDS. Dari organisasi tersebut, Nafsiah mendapat data bahwa kini sudah terjadi pergeseran penyakit mematikan yang belum ada obatnya itu.
“Ibu Menkes menemukan data pergeseran penularan penyakit HIV/AIDS. Dari asalnya penularan lewat jarum suntik, bergeser karena hubungan seks,” jelasnya.
Sehingga, bukan hanya orang berisiko tinggi, seperti pekerja seks komersial (PSK) yang terinfeksi, kini HIV/AIDS juga mengancam ibu rumah tangga (IRT). Padahal, awalnya IRT merupakan kelompok yang tidak berisiko.
“Jadi sudah epidemik terkonsentrasi pada golongan-golongan yang suci (IRT),” sebutnya.
Menkes juga menemukan data banyaknya remaja yang belum menikah, tetapi mengalami keguguran karena hubungan seks di luar nikah.
Menurutnya, siapa yang bisa menjamin tidak ada hubungan seks di luar nikah. Siapa yang menjamin lelaki selalu setia terhadap pasangan atau istri.
“Kalau begitu harus ada payung, yaitu kondom. Maka kampanye penggunaan kondom tadi jangan dibaca setengah-tengah," pintanya.
Senin, 20 Mei 2013 16:11 WIB
Senin, 20 Mei 2013 15:34 WIB
Senin, 20 Mei 2013 14:01 WIB