BANDUNG- Seratusan pedagang ayam yang tergabung dalam Persatuan Pasar dan Warung Tradisional (Pesat) Jawa Barat, mendatangi kantor Pemerintah Provinsi Jawa Barat, Gedung Sate, di Jalan Diponegoro.
Mereka menuntut pemerintah dan DPRD Jabar melakukan intervensi terkait harga ayam yang membumbung tinggi. Dalam aksinya, para pedagang membawa potongan daging ayam dan kandang ayam. Kandang ayam tersebut kemudian dibakar di depan gerbang Gedung Sate.
Massa juga berorasi yang menuding pengusaha ternak memonopoli harga anak ayam (DOC) dan pakan, sehingga membuat harga ayam naik 30 persen dari harga normal, yakni dari Rp22 ribu menjadi lebih dari Rp30 ribu. Akibatnya, para pedagang kesulitan mematok harga jual.
Kenaikan harga ayam itu sudah terjadi dua pekan terakhir, dan ini selalu terjadi jelang Ramadan. Pemerintah dinilai tidak bisa mengantisipasi momen tahunan ini.
Ketua Umum Pesat Jabar, Usep, menyatakan Gubernur Jabar dan DPRD Jabar harus turun tangan dalam menghadapi gejolak harga ayam. Pesat Jabar juga menuntut pemerintah mengeluarkan standardisasi harga untuk mengantisipasi kesewenangan para kapitalis yang mempermainkan harga.
"Pemerintah juga harus menanggulangi, memantau, dan mengawasi harga Popan dan DOC (anak ayam)," kata Usep, Kamis (12/7/2012).
Massa juga membawa beberapa ayam. Mereka juga mengusung berbagai karton bertuliskan tuntutan, di antaranya "Kenaikan harga ayam tidak wajar bandar dan pedagang rugi", "Harga ayam sudah melebihi target pasar", "Harga ayam naik 30 persen, kami bandar dan pedagang bangkrut."
Aksi yang dimulai sekira pukul 10.30 WIB itu mendapat pengawalan dari Kepolisian. Meski begitu, unjuk rasa berlangsung tertib meski diwarnai pembakaran kandang ayam.
Rabu, 22 Mei 2013 11:43 WIB
Rabu, 22 Mei 2013 09:01 WIB
Selasa, 21 Mei 2013 16:43 WIB