BANDUNG- Peternakan babi yang ada di Jawa Barat (Jabar) akan segera ditutup. Ini dilakukan jika pasal pelarangan bagi peternak babi disetujui DPRD Jabar.
Rencananya, pasal ini akan termuat dalam Raperda Penyelenggaraan Peternakan dan Kesehatan Hewan yang akan dibahas DPRD Jabar 2012 ini.
"Draft raperdanya sudah ada di Biro Hukum (Pemprov Jabar), tinggal masuk ke dewan," kata Kepala Dinas Peternakan Jabar Koesmayadi Tatang Padmadinata di DPRD Jabar, Jalan Diponegoro, Bandung, Senin (13/8/2012).
Namun, dia tidak tahu kapan draft raperda tersebut akan disetuju. Dia menjelaskan, penutupan peternakan babi didasarkan atas kondisi di lapangan. Menurutnya, para
peternak tidak mematuhi kelayakan pendirian peternakan yang layak.
Para peternak babi, sambungnya, membuat peternakan di gunung atau daerah tinggi. Padahal MUI sudah menjelaskan jika aliran air yang terkena kotoran babi itu haram.
"Dalam aturan, peternakan babi harusnya berdiri di tanah dengan aliran air paling rendah," terangnya.
Di sisi lain, masyarakat Jabar kebanyakan muslim. Dia khawatir, kondisi tersebut menjadi persoalan. "Kalau terus dibiarkan, kita khawatir timbul persoalan di masyarakat," ujarnya.
Pihaknya mengaku selama ini kesulitan dalam melakukan penertiban terhadap peternak babi. Banyak peternak yang justru mengambil daerah untuk beternak di daerah tinggi.
Selain itu, rencana penutupan ditopang dengan belum banyaknya peternakan babi di Jabar. "Jadi mumpung belum banyak lebih baik ditutup," lanjutnya.
Karena itu, jumlah tenaga kerja yang terlibat juga belum banyak. Sementara produksi daging babi di Jabar juga masih sangat minim hanya 87 ton per tahun.
Kebanyakan daging babi juga bukan untuk Jabar, tetapi suplai untuk Jakarta. Malah jika permintaan di Jabar sedang tinggi, akan memasok dari Boyolali.
"Jika peternakan babi di Jabar resmi ditutup, untuk memenuhi kebutuhan bisa meminta pasokan dari Jawa Tengah," katanya.
Jum'at, 24 Mei 2013 12:09 WIB
Jum'at, 24 Mei 2013 07:55 WIB
Kamis, 23 Mei 2013 12:42 WIB