BANDUNG- Gunung Tangkubanparahu, yang berada di perbatasan Kabupaten Bandung Barat dan Kabupaten Subang, kini statusnya diturunkan dari Waspada (Level II) menjadi Normal (Level I).
Penurunan tersebut terjadi setelah satu bulan lalu objek wisata sepi dari aktivitas pengunjung dan warga sekitar.
“Sudah (diturunkan statusnya) pada 21 September 2012 pukul 17:00 WIB. Lengkapnya bisa dilihat di www. vsi.esdm.go.id,” kata Kabid Pengamatan Penyelidikan Gunung Api Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi (PCMBG), M Hendrasto, melalui pesan singkatnya kepad Okezone, Jumat (21/9/2012).
Pada laman http://proxy.vsi.esdm.go.id/index.php, PVMBG menyatakan bahwa penurunan status Gunung Tangkubanparahu berdasarkan hasil pengamatan terhadap aktivitas gunung seperti kegempaan, deformasi, visual, pengukuran gas, suhu air danau kawah, dan suhu tanah serta analisis data.
Dari keseluruhan pengamatan, PVMBG menemukan aktivitas yang menurun. Sehingga terhitung sejak Jumat, 21 September 2012 pukul 17:00 WIB status kegiatan Gunung Tangkubanparahu diturunkan menjadi Normal (Level I).
PVMBG tetap melakukan pemantauan secara intensif dan melakukan evaluasi kegiatan Gunung Tangkubanparahu. Status bisa kembali dinaikkan jika terjadi indikasi peningkatan aktivitas vulkanik.
Dengan penurunan status tersebut, PVMBG merekomendasikan masyarakat di sekitar Gunung Tangkubanparahu maupun wisatawan tidak diperbolehkan turun ke dasar Kawah Ratu.
Selain itu, warga dan wisatawan tidak diperbolehkan menginap dalam kawasan kawah-kawah aktif yang ada di dalam kompleks Gunung Tangkubanparahu, terlebih ketika cuaca mendung dan hujan.
Kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) KBB dan Kabupaten Subang disarankan senantiasa berkoordinasi dengan Pos Pengamatan Gunung Tangkubanparahu di Desa Cikole, Kec. Lembang, KBB atau dengan PVMB di Bandung.
Untuk diketahui, pada 23 Agustus 2012 pukul 23:00 WIB status kegiatan Gunung Tangkubanparahu dinaikkan dari Normal menjadi Waspada. Tidak lama sejak status Waspada, Taman Wisata Alam Gunung Tangkubanparahu pun ditutup oleh BPBD Jabar.
Berdasarkan sejarahnya, gunung ini pernah meletus pada periode erupsi 1829-1994. Dalam kurun itu, gunung paling sohor di Jabar ini setidaknya mengalami 3 kali letusan magmatik (kolom asap maksimal mencapai 2 km) dan 4 kali letusan freatik.
Sabtu, 25 Mei 2013 14:17 WIB
Jum'at, 24 Mei 2013 15:37 WIB
Jum'at, 24 Mei 2013 14:22 WIB